Selasa, 12/11/2019  
Lingkungan / BRG Tuding Karhutla Riau Dilakukan Secara Sistematis
BRG Tuding Karhutla Riau Dilakukan Secara Sistematis

Lingkungan - - Selasa, 13/08/2019 - 11:30:58 WIB

PEKANBARU, situsriau.com - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali melanda Provinsi Riau hingga menyebabkan kabut asap. Badan Restorasi Gambut (BRG) menilai Karhutla yang saat ini terjadi di Riau dilakukan secara sistematis hingga menyebabkan titik api terus bermunculan dalam skala luas.

"Maraknya kebakaran lahan disebabkan masih berlangsungnya proses pembakaran lahan skala besar. Pembakaran lahan tersebut dilakukan secara sistematis oleh sejumlah pihak," kata Kepala BRG, Nazir Foead dalam keterangannya, Senin (12/8/19).

Kesimpulan itu disampaikan lulusan University of Gottingen, Jerman tersebut setelah meninjau dan membantu pemadaman kebakaran lahan di sejumlah lokasi di Riau pada akhir pekan kemarin.

Nazir mencontohkan, kebakaran lahan yang terjadi di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu). Berdasarkan laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau yang melakukan patroli udara bersama Deputi BRG pada Jumat (9/8/19) disebutkan bahwa pembakaran lahan dilakukan secara sistematis.

Sehingga, perlu adanya tindakan dan penegakan hukum yang tegas agar kebakaran segera dapat diatasi. Peran satuan tugas penegakan hukum (Satgas Gakkum) yang dalam hal ini diemban oleh Kepolisian Daerah (Polda) Riau sangat sentral.

Meski begitu, Nazir tetap memberikan apresiasi ke Polda Riau yang sejauh ini telah melakukan tindakan yang maksimal dalam menangani Karhutla melalui penegakan hukum. Hal ini dibuktikan dengan penetapan 27 tersangka pembakar lahan sepanjang 2019 ini. Dan yang terakhir, Polda Riau turut menetapkan korporasi perkebunan sawit di Kabupaten Pelalawan, PT SSS sebagai tersangka.

"Apabila ini terus berlangsung, maka makin sulit menghilangkan kabut asap. Kita harap ada penyelidikan lebih lanjut dari aparat hukum. Polda Riau telah bergerak cepat mengungkap pembakaran sistematis serupa di Pelalawan, dengan penetapan sejumlah tersangka termasuk satu perusahaan perkebunan, kita patut apresiasi tindakan tegas ini," ucap Nazir seperti dilansir Antara.

Lebih jauh, Nazir mengklaim bahwa program yang dijalankan BRG, termasuk di antaranya membuat sekat kanal dan sumur bor di sejumlah lokasi rawan membantu menekan angka Karhutla.

Ia mencontohkan di Kabupaten Kampar, keberadaan sekat kanal dan sumur bor sangat membantu Satgas Karhutla Riau memperoleh sumber air. Kampar merupakan salah satu wilayah kerja BRG yang hingga saat ini dinilai cukup berhasil menekan Karhutla dibanding tahun-tahun sebelumnya.

"Sumber air dari kanal masih ada walau tidak melimpah. Diperlukan sumur bor dibangun di tempat di mana air dari kanal sudah terlalu jauh untuk mencapai api," tuturnya.

Nazir menuturkan akan menambah 50 sumur bor di Tapung, Kampar. Menurutnya, sumur bor selain mampu menyiapkan air yang cukup berlimpah untuk memadamkan hingga radius 200 meter. Sumur bor kedua akan dibuat 200 meter dari sumur pertama sehingga api bisa terkepung.

Nantinya, selain untuk mencegah dan menanggulangi Karhutla, sumur bor juga akan berfungsi sebagai sumber air bagi perkebunan nanas di wilayah itu. "Sehingga masyarakat bisa menjaga area tersebut dan mencegah kebakaran di saat kemarau," ujarnya. (sr5, in)

Kami menerima tulisan mengenai informasi yang bernilai berita
Silahkan SMS ke 08117533365
atau Email: situsriau.redaksi@gmail.com
Lengkapi data diri secara lengkap.
----- Akses kami via mobile m.situsriau.com -----

 
Redaksi | Email | Galeri Foto | Pedoman Media Siber
Copyright 2012-2017 PT. SITUS RIAU INTIMEDIA, All Rights Reserved