Senin, 17/12/2018  
Nasional / Indonesia Diguncang Teror Bom, Kapolri Desak Revisi UU Antiterorisme
Indonesia Diguncang Teror Bom, Kapolri Desak Revisi UU Antiterorisme

Nasional - - Senin, 14/05/2018 - 16:25:42 WIB

JAKARTA, situsriau.com-Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian mendesak Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mempercepat revisi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme atau UU Antiterorisme. Tujuannya agar Polri bisa lebih cepat menindak teroris.

"Revisi jangan terlalu lama, sudah satu tahun lebih," kata Tito dalam konferensi pers di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5/18).

Kapolri menuturkan, sejumlah pasal membuat Polri sulit bergerak. Ia mencontohkan teroris baru bisa ditindak jika sudah terbukti melakukan tindak teror.

"Kita tidak bisa melakukan apa-apa, hanya tujuh hari menahan mereka, menginterview, setelah dilepas kita intai. Tapi setelah dilepas mereka kita intai juga menghindar," katanya.

Karena itu, Tito berharap UU Antiterorisme segera diselesaikan. Kalau tak bisa diselesaikan dalam waktu dekat, ia berharap Presiden Joko Widodo mengambil sikap.

"Undang-Undang agar dilakukan cepat revisi, bila perlu Perppu (Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang) dari Bapak Presiden terima kasih," pungkasnya.

Tito ingin Polri dapat melakukan penindakan yang lebih. Salah satu yang disebut Tito yaitu agar pemerintah dapat menetapkan organisasi seperti Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) sebagai organisasi teroris agar bisa ditindak tanpa harus menunggu adanya aksi dari mereka.

"Kita ingin agar lebih dari itu salah satunya misalnya kita bisa negara atau pemerintah, institusi pemerintah atau institusi hukum pengadilan menetapkan misalnya JAD dan JAT sebagai organisasi teroris dan setelah itu ada pasalnya yang menyebutkan siapapun bergabung organisasi teroris dapat dilakukan proses pidana itu akan lebih mudah bagi kita," ucap Tito seperti dilansir detikcom.

Beragam aksi teror terjadi dalam sepekan terakhir. Yang terbaru, bom bunuh diri meledak di tiga gereja di Surabaya, yakni Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jalan Diponegoro; Gereja Santa Maria Tak Bercela di Ngagel; dan Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno. Teror itu menewaskan 13 orang dan puluhan orang lainnya luka-luka.

Pelaku bom bunuh diri itu ada enam orang yang merupakan satu keluarga. Mereka adalah Dita Sopriyanto (ayah) dan Puji Kuswati (ibu) serta empat orang anaknya yaitu YF, FH, FS, dan P.

Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat PP Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif atau Buya Syafii meminta pemerintah lebih tegas. "Aksi teror ini sudah berulang-ulang, Bom Bali dan seterusnya. Kita berharap dengan dieksekusi (pelaku dihukum) semakin reda, ternyata mati satu tumbuh seribu, apa akar pokok di sini? Menurut saya ada pengaruh dari negara Arab, Suriah, Irak, macam-macam, ada ISIS, Boko Haram, saya kira mazabnya sama, kekerasan dan sudah menyebar secara masif," katanya.

Buya pun meminta aparat keamanan untuk meningkatkan kewaspadaan dan pengamanan. Karena jika kasus teror terus berulang, dikhawatirkan akan berimbas terhadap kepercayaan masyarakat kepada aparat keamanan.

"Ditangkap tak ada habisnya, apa bangsa ini memang mau remuk? Yang saya khawatirkan ini akan ada imbasnya pada legitimasi, nanti digoreng isu umpamanya, ternyata negara tidak bisa mengamankan tempat ibadah, ini kan repot. Polisi sudah kerja keras tapi perlu ditingkatkan efektivitasnya. Seperti yang terjadi di Mako Brimob kemarin, terjadi di komplek Brimob yang gagah, angker, itu kan luar biasa, alasannya makanan, saya rasa tidak. Saya rasa ini puncak gunung es," sebut Buya.

Buya khawatir jika aksi teror tidak bisa diantisipasi sejak dini, bisa merusak NKRI. Kalau Indonesia rusak seperti di negara Timur Tengah, sambungnya, dunia Islam bisa runtuh seluruhnya. "Orang melihat Indonesia masih waras walau terjadi beberapa kasus," ujarnya.

Buya juga menyampaikan rasa bela sungkawa kepada korban dari jemaat gereja di Surabaya. Buya juga prihatin jika aksi teror mengatasnamakan agama.

"Itu penafsiran agama yang keliru, yang ditundukkan pada syahwat kekuasaan. Pelaku sudah tidak normal, hentikan perbuatan itu, melukai kemanusiaan, dan pemerintah menurut saya harus lebih tegas tapi sesuai dengan koridor hukum," urai Buya.

"Saya ucapkan bela sungkawa sangat dalam, jangan berulang lagi, saya berharap dua tahun ini ramai tahun politik, polisi tingkatkan pengamanan. Di Surabaya ada penjagaan kena juga, pelaku punya teknik. Saya dengar seperti kasus di Mako Brimob, mereka berani mati tidak berani hidup, kelompok putus asa. Di Indonesia tidak patut, tapi kena pengaruh di Timur Tengah imbasnya masuk," imbuhnya.

Dalam kesempatan ini, Buya Syafii juga menyampaikan dukungannya untuk aparat keamanan. Namun dia juga memberi catatan.

"Densus sudah bekerja keras, tapi Densus jangan sampai salah, seperti salah tangkap meski salah itu manusiawi. Tapi harus berhati-hati agar tidak digoreng nanti isunya Densus tidak bijak, tidak apa gitu," katanya.

Buya berharap polisi mampu mengungkap tuntas kasus teror di Surabaya tersebut. "Kita tunggu proses hukumnya," kata Buya.

Buya melanjutkan, sejumlah kasus teror di Indonesia tidak sedikit yang melibatkan perempuan sebagai pelaku. Hal itu menurutnya menunjukkan bahwa kelompok teror telah terdesak.

"Seperti kasus di Jawa Barat (yang dimaksud penangkapan dua wanita yang berencana tusuk Brimob) dan pelaku di Surabaya, para pelaku dicuci otaknya, pelaku ada yang perempuan, mereka semakin terdesak apa perintahnya dijalankan. Ini merusak bangsa, masyarakat, persaudaraan, merusak segalanya," imbuhnya. (sr5, in)

Kami menerima tulisan mengenai informasi yang bernilai berita
Silahkan SMS ke 0852-720-49-275 atau PIN BBM: 5513A781
atau Email: situsriau.redaksi@gmail.com
Lengkapi data diri secara lengkap.
----- Akses kami via mobile m.situsriau.com -----

 
Redaksi | Email | Galeri Foto | Pedoman Media Siber
Copyright 2012-2017 PT. SITUS RIAU INTIMEDIA, All Rights Reserved