Senin, 17/12/2018  
Nasional / Bom di Jatim Disebut 'The Mother of Satan', Terkenal di Kalangan ISIS
Bom di Jatim Disebut 'The Mother of Satan', Terkenal di Kalangan ISIS

Nasional - - Selasa, 15/05/2018 - 13:51:44 WIB

JAKARTA, situsriau.com - Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Tito Karnavian mengungkapkan bahwa kelompok Jamaah Anshorut Daulah (JAD) Surabaya, Jawa Timur (Jatim), membuat bom pipa dengan bahan peledak triacetone triperoxide (TTATP). Menurutnya, bahan peledak TTAP sangat dikenal oleh anggota Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

"Ini sangat dikenal di kelompok ISIS. Mudah dibuat dari bahan yang mudah diperoleh dan diramu sedemikian rupa," kata Tito saat konfrensi pers di Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Jatim, Senin (14/5/18).

Tito menjelaskan, bahan TTATP sangat berbahaya. Di kalangan ISIS, bahan ini pun dikenal dengan sebutan 'the mother of satan'. "TTAP dikenal dengan sebutan 'the mother of satan', ibu dari para setan. Karena bahan ledak tinggi," tambahnya.

Jenis bom yang dipakai ISIS dan JAD itu berbeda dengan bom berjenis Trinitrotoluene (TNT) karena diperlukan detonator untuk meledakkannya. "Kalau TTAP ini pakai guncangan atau panas bisa meledak sendiri. Makanya dinamakan the mother of setan," kata Tito.

Tito menyatakan terduga pelaku bom bunuh diri di tiga gereja dan Markas Kepolisian Resor Kota Besar (Mapolrestabes) Surabaya masih terkait dengan kelompok JAD dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT). Menurutnya, mereka adalah kelompok pendukung ISIS.

Tito juga menyatakan rentetan bom yang meledak di Surabaya sejak Minggu (13/5) merupakan instruksi dari ISIS yang sedang terdesak di sejumlah negara. "Kemungkinan motif terkait karena ada instruksi dari ISIS sentral yang mereka terdesak dan kemudian memerintahkan sel-sel lain di seluruh dunia bergerak," katanya.

ISIS memang sedang terdesak dalam sejumlah perang di Timur Tengah. Kelompok pimpinan Abu Bakar al-Baghdadi ini harus meninggalkan sejumlah wilayah kekuasaannya di Suriah dan Irak.

Indikasi peran ISIS dalam teror bom di Surabaya, kata Tito, diperkuat oleh serangan teror yang terjadi di Paris, Perancis, beberapa hari lalu. "Pelakunya menggunakan pisau, satu meninggal, empat luka, termasuk pelaku ditembak polisi di Paris," katanya.

Peran ISIS tersebut merupakan faktor pemicu dari luar. Sementara faktor pemicu dari dalam negeri, Tito menyebut sebagai aksi pembalasan terhadap perlakuan yang diterima oleh pimpinan JAD, Aman Abdurrahman.

Aman sempat bebas pada Agustus lalu setelah mendapat remisi lima bulan. Namun, belum sempat menghirup udara bebas, Aman langsung dibawa oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror dari Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah ke Jakarta untuk diperiksa keterlibatannya dalam sejumlah kasus teror bom termasuk di kawasan Thamrin, Jakarta.

"Diduga ada pembalasan dari JAD karena pimpinannya Aman Abdurrahman yang Agustus lalu dibebaskan kemudian ditangkap kembali," kata Tito.(sr5, in)



Kami menerima tulisan mengenai informasi yang bernilai berita
Silahkan SMS ke 0852-720-49-275 atau PIN BBM: 5513A781
atau Email: situsriau.redaksi@gmail.com
Lengkapi data diri secara lengkap.
----- Akses kami via mobile m.situsriau.com -----

 
Redaksi | Email | Galeri Foto | Pedoman Media Siber
Copyright 2012-2017 PT. SITUS RIAU INTIMEDIA, All Rights Reserved