Senin, 18 November 2019  
Penetapan Kampung Wisata Koto Ranah, Warga Disanksi Bila Tak Berzikir

Advetorial Rokan Hulu - - Senin, 26/02/2018 - 12:47:40 WIB

PASIR PANGARAIAN, situsriau.com - Bupati Rokan Hulu (Rohul), H Sukiman tetapkan Desa Koto Ranah di Kecamatan Kabun telah ditetapkan sebagai kampung wisata.

Selain memiliki obyek wisata alam nan indah, masyarakat Desa Koto Ranah juga masih menjunjung tinggi adat. Salah satunya, berzikir sepekan setelah Lebaran Idul Fitri.

Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan (Kadisparbud) Kabupaten Rohul, Drs Yusmar MSi mengatakan, Desa Koto Ranah ditetapkan sebagai kampung wisata pertama di Rohul oleh Bupati H Sukiman pada Kamis (22/2/18) malam. Pada malam tersebut, Bupati juga meresmikan pelaksanaan Kemah Bakti Mahasiswa (KMB) Universitas Pasir Pengaraian (UPP) ke-8. Kedua acara seremonial itu dilaksanakan Lapangan Sepakbola Desa Koto Ranah.

Desa Koto Ranah, kata Yusmar, memiliki keunikan tersendiri karena berada di dataran kaki Bukit Suligi yang juga jejeran Bukit Barisan. Agar bisa mencapai ke kaki Bukit Suligi serta menikmati keindahan dari Puncak Ranah yang jadi obyek wisata 'Menggapai Matahari di Puncak Ranah', maka bisa ditempuh dengan jarak antara 5 kilometer (km) sampai 6 km dari base camp Komunitas Pecinta Alam (KPA) Koto Ranah.

Masyarakat Koto Ranah, terang Yusmar, hingga kini mereka masih menjunjung tinggi adat. Datuk adat masih pihak penentu, disegani dan dipatuhi oleh masyarakat. Karena itu, di setiap tradisi adat selalu disandingkan dengan tradisi agama. Salah satu di antaranya adalah melaksanakan budikiu atau berzikir.

"Zikir bukanlah hal yang unik dan asing untuk agama Islam, dimana-mana selalu dilaksanakan. Akan tetapi di daerah ini keunikannya terletak pada sanksi bagi masyarakat yang tidak melaksanakan," kata Yusmar kepada wartawan, Sabtu (24/2).

Disebutkan Yusmar, bahwa tradisi zikir yang dilaksanakan sepekan setelah Lebaran Idul Fitri adalah sebagai sebuah tradisi unik di Desa Koto Ranah. Zikir wajib diiikuti seluruh masyarakat sehingga mereka dilarang ke luar desa dan melaksanakan aktivitas pertanian dan perkebunan.

"Sehingga saat digelarnya zikir sepekan setelah Idul Fitri, semua masyarakat di Koto Ranah mematuhinya. Bagi masyarakat yang tidak patuh atau tidak hadir di zikir itu, maka akan diberi sanksi adat," kata Yusmar.

Yusmar juga mengatakan, penduduk di desa sebagian besar hidup dari sektor perkebunan. Mereka masih terlihat menjunjung adat kebiasaan yang kental, sebagai warisan dari leluhur. Itu terbukti dengan masih adanya ogong kramat yang digunakan sekali dalam setahun pada waktu Hari Raya Idul Fitri, melalui prosesi adat. Bukan hanya itu, meriam kecil yang disebut lelo juga masih dapat diledakkan dengan mesiu.

"Itu memperkuat bukti kampung Koto Ranah berdiri dan ada sejak lama, ditambah dengan baru ditemukannya satu naskah kuno tulisan tangan seorang alim ulama dengan bahasa Arab Melayu di kertas bahan Eropa yang diperkirakan berusia capai tiga abad," katanya.

Naskah kuno tersebut ditulis oleh H Janggut di Makkah yang masih tersimpan hingga kini secara turun temurun. Naskah dalam bentuk buku tersebut berisi pendekatan ke Sang Khalik dan peribadatan, pengobatan serta senjata pergaulan dalam kehidupan kemasyarakatan.

Yusmar menyebutkan, Desa Koto Ranah memiliki destinasi wisata alam di daerah perbukitan Suligi dengan melihat matahari terbit atau sunrise dan matahari terbenam atau sunset di ketinggian Puncak Ranah sekira 900 Meter Di Atas Permukaan Laut (MDPL). Dari ketinggian ini pengunjung seperti berada di atas awan, bisa melihat danau PLTA Koto Panjang Kabupaten Kampar. Para pengunjung juga akan menikmati hamparan hutan di kawasan Bukit Suligi dan seolah-olah berada di negeri di atas awan. Agar bisa sampai ke Puncak Ranah, pengunjung harus berjalan kaki sekitar 1 jam hingga 1,5 jam. Sehingga, wisata Menggapai Matahari di Puncak Ranah saran Yusmar, sangat tepat bagi yang suka petualangan, pencinta alam dan kawula muda yang suka dengan alam.

Yusmar mengatakan, sangat wajar bila Desa Koto Ranah dicanangkan sebagai kampung wisata pertama oleh Bupati. "Keunikan wilayah dan kemurnian serta kekentalan kehidupan masyarakat dengan tradisi dan adat istiadatnya, ditambah dengan keaslian alam yang masih asri, desa ini pantas dijadikan kampung wisata pertama di Kabupaten Rohul," kata Yusmar. (sr5, in)


Kami menerima tulisan mengenai informasi yang bernilai berita
Silahkan SMS ke 08117533365
atau Email: situsriau.redaksi@gmail.com
Lengkapi data diri secara lengkap.
----- Akses kami via mobile m.situsriau.com -----

Redaksi | Email | Galeri Foto | Pedoman Media Siber
Copyright 2012-2017 PT. SITUS RIAU INTIMEDIA, All Rights Reserved