Rabu, 24 Oktober 2018  
Lingkungan / Bayi Beruang Terpisah dari Induknya, Petugas Evakuasi dari Hutan Tanaman Industri
Bayi Beruang Terpisah dari Induknya, Petugas Evakuasi dari Hutan Tanaman Industri

Lingkungan - - Rabu, 10/10/2018 - 06:17:14 WIB

PEKANBARU, situsriau.com - Tim Forest Protection Arara Abadi bersama Tim Patroli Smart Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo mengevakuasi seekor bayi beruang madu liar dari area hutan tanaman industri perusahaan di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau.
    
"Iya benar, bayi beruang itu ditemukan oleh pekerja kontraktor kita, dan kita sudah melakukan sesuai prosedur standar operasi untuk menyelamatkannya," kata Humas PT Arara Abadi-Sinar Mas Forestry, Nurul Huda, ketika dihubungi Antara dari Pekanbaru, Senin kemarin.
    
Nurul mengatakan anak beruang tersebut pada Senin ini sudah diserahkan kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Riau, di Kota Pekanbaru.
    
Direktur Eksekutif Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Yuliantoni, mengatakan tim patroli yayasan mengetahui ada bayi beruang madu tersebut pada tanggal 5 Oktober lalu. Satwa bernama latin helarctos malayanus tersebut sempat dipelihara oleh pekerja yang menemukannya.
    
Bahkan, pekerja tersebut juga memberi makan susu kepada satwa yang dilindungi itu.
    
"Bayinya sehat, dan terlihat aktif. Tapi kita belum melakukan pemeriksaan lebih dalam mengenai perkiraan umur dan kelaminnya, karena kita sekadar merawatnya. Nanti dokter hewan BBKSDA yang akan memeriksanya," ujar Yuliantoni.
    
Ia menduga bayi beruang madu itu terpisah dari induknya karena konflik di habitatnya. Lokasi penemuan satwa itu sedang ada aktivitas penebangan pohon di hutan tanaman industri (HTI) Arara Abadi.
    
Menurut dia, beruang merupakan binatang yang bersifat soliter atau penyendiri, dan ketika ada penebangan menggunakan gergaji mesin dan alat berat, kemungkinan induk beruang stres. "Dan ketika menghindar, bayinya ditinggal," katanya.
    
"(Kasus) ini disebabkan oleh konflik karena itu kemungkinan home range (area jelajah) beruang, dan kita lupa lihat kondisi sekitar," lanjut Yuliantoni.
    
Menurut dia, sejauh ini perusahaan industri kehutanan sebenarnya sudah menerapkan kewajiban membuat kawasan lindung atau kawasan bernilai konservasi tinggi di konsesi HTI. Namun, kondisi kawasan itu terpisah-pisah sehingga perlu dipikirkan juga membuat koridor yang menghubungkannya untuk keamanan satwa dan manusia.
    
Selain itu, ia menilai perusahaan perlu memperbanyak tim khusus untuk memitigasi konflik satwa dengan manusia.
    
"Kalau ada tim khusus itu dan ada kawasan konservasi, dia (beruang) bisa berlindung di sana," katanya.
    
Ia menambahkan, populasi beruang madu di area konsesi perusahaan tersebut cukup banyak sehingga upaya lebih untuk mitigasi konflik sangat diperlukan. (sr5, in)


Kami menerima tulisan mengenai informasi yang bernilai berita
Silahkan SMS ke 0852-720-49-275 atau PIN BBM: 5513A781
atau Email: situsriau.redaksi@gmail.com
Lengkapi data diri secara lengkap.
----- Akses kami via mobile m.situsriau.com -----

 
Redaksi | Email | Galeri Foto | Pedoman Media Siber
Copyright 2012-2017 PT. SITUS RIAU INTIMEDIA, All Rights Reserved