Kamis, 19 Juli 2018  
Nasional / Teroris Libatkan Perempuan dan Anak-anak karena Hal Ini....
Teroris Libatkan Perempuan dan Anak-anak karena Hal Ini....

Nasional - - Selasa, 15/05/2018 - 09:38:23 WIB

JAKARTA,situsriau. com - Dita Oepriarto dan istrinya, Puji Kuswati, tega mengajak keempat anaknya beraksi melakukan pengeboman di tiga gereja di Surabaya. Pengamat teroris Hasibullah Satrawi mengatakan pelibatan perempuan dan anak itu menunjukkan suasana terdesak dan darurat. 

"Sebenarnya dibaca dari penalaran mereka ini masuk dalam penalaran darurat barangkali karena secara normatif bahwa jihad itu wajib bagi kaum laki-lakinya, tapi karena kaum laki-lakinya tidak bisa jihad karena ditangkap maka perempuannya pun dipersilakan berjihad," kata Hasibullah saat dihubungi, Senin (14/5/18).

Dia menyebut pelibatan perempuan dalam keadaan terdesak disampaikan oleh salah satu pimpinan mereka dari Jamaah Ansharut Daulah (JAD), Aman Abdurrahman. Pelibatan anak-anak dalam aksi teror juga dinilai sebagai modus baru terorisme di Indonesia.

"Salah satu yang mengatakan sejauh yang saya tahu Aman Abdurrahman. Ini anak-anak terus terang di Indonesia baru, dengan menjadikan satu keluarga sebagai bomber. Kalau cuma kakak-beradik sebenarnya ada. Tapi yang kemudian satu keluarga, termasuk dengan anak-anaknya, ini baru di Indonesia," urai Direktur Eksekutif Aliansi Indonesia Damai (Aida) itu. 

Hasibullah menerangkan, jika benar baru kembali dari Suriah, keluarga ini benar-benar sudah terpapar paham radikal. Apalagi, seperti diketahui, dalam video-video yang beredar, ISIS kerap melatih anak-anak menjadi bomber.

"Salah satu penjelasan kalau ini benar dari Suriah, mungkin karena terpapar langsung terpapar di Suriah. Karena kita tahu, sebagaimana di video-video yang beredar itu Suriah anak-anak WNI di sana juga dilatih berperang. Jadi mereka mempersiapkan generasi khilafah/penerus karena mereka ingin menegakkan khilafah islamiyah," jelasnya.

Hasibullah pun menduga ada keterkaitan antara pengeboman tiga gereja di Surabaya dan rusun Wonocolo, Sidoarjo. Sebab, selain kesamaan penggunaan satu keluarga, persiapan untuk melakukan pengeboman juga membutuhkan waktu tak sebentar. 

"Sudah pasti ada jaringan, karena istilahnya dari besarnya ledakan pasti membutuhkan waktu yang lama dan ilmu yang mumpuni untuk merakit, membuat, belanja, belum lagi untuk memantapkan bombernya. Apalagi dalam bentuk keluarga, waduh itu bayangan saya cukup lama disiapkan, terutama untuk anak-anaknya karena lama di Suriah," terang Hasibullah. 

Dia mengakui pelaku pengeboman dengan modus satu keluarga agak sulit dideteksi. Dibutuhkan peran serta masyarakat untuk melaporkan kegiatan yang mencurigakan.

"Keluarga yang menjadi bomber, lebih sulit lagi karena proses deteksinya dari mana. Mau tidak mau deteksinya dari masyarakat, bisa petugas RT/RW atau pertemanan di masyarakat, termasuk anak-anaknya. karena berat mendeteksinya. Jadi ini semakin membutuhkan peran serta masyarakat secara dini untuk menangkap kesadaran dini," jelas Hasibullah.

Kasus bom bunuh diri di tiga gereja ini diketahui melibatkan satu keluarga, yang terdiri atas ayah dan ibu beserta empat anaknya. Sang ayah, Dita Oepriarto, meledakkan diri di GPPS Jalan Arjuna. Sementara itu, si ibu, Puji Kuswati, meledakkan diri bersama kedua putrinya berinisial FS dan PR di GKI Jalan Diponegoro.

Kemudian, dua anak laki-laki, Dita dan Puji, meledakkan diri di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Ngagel. YF dan FH bergerak secara terpisah dari orang tuanya dengan naik sepeda motor dan meledakkan diri.(sr5, in)



Kami menerima tulisan mengenai informasi yang bernilai berita
Silahkan SMS ke 0852-720-49-275 atau PIN BBM: 5513A781
atau Email: situsriau.redaksi@gmail.com
Lengkapi data diri secara lengkap.
----- Akses kami via mobile m.situsriau.com -----

 
Redaksi | Email | Galeri Foto | Pedoman Media Siber
Copyright 2012-2017 PT. SITUS RIAU INTIMEDIA, All Rights Reserved